Setiap diri seorang muslim yang sedari kecil telah begitu akrab dengan beragam jenis doa, hingga menjadi manusia dewasa yang terus terikat dengan doa-doa itu dalam berbagai keperluan dan ‘hajat-hajatnya’, sudah pasti akan merasa bahwa berkat doa-doa tertentu dengan berbagai ‘spesifikasinya’ itulah maka hidupnya dapat menjadi lebih terarah, sukses dan sekaligus jauh lebih bermakna. Lebih dari sekedar arti keberhasilan yang mampu diraih oleh optimalnya pengerahan ikhtiar dan usaha semata, doa bahkan telah menjadi bagian paling utama dari proses rampung-tuntasnya setiap pencapaian apapun dalam hidup.
Sebagai komponen utama setiap raihan yang mampu dicapai oleh seseorang yang begitu terikat akrab dengan doa, maka doa telah menjadi sebuah kekuatan, tempat bersandar dari setiap situasi sulit dan aral-kendala. Doa sudah tak ubahnya ‘kemudi’ bagi arah perjalanan ‘kapal kehidupan’ di tengah pasang-surut badai dan gelombang, menjadi layaknya ‘sinar lampu mercusuar’ yang menuntun setiap kapal agar tak terlantar jauh dari lintasan arah yang seharusnya ditempuh, hingga tak keluar dari pelabuhan akhir yang hendak dituju.
Oleh karenanya, bagi seseorang yang telah demikian tak terpisahkan dengan doa-doa, akan tumbuh kepercayaan bahwa doa, selain sebagai ‘inti’ dari ibadah, sekaligus juga adalah ‘senjata’ bagi setiap hamba yang benar-benar percaya dan beriman akan ke-Maha-an Tuhan, dan ke-Faqir-an dirinya sendiri. Yang oleh karenanya maka ia menjadi terikat pada doa, setiap waktu, sepanjang hidup.
Bagi kita, sudahkah doa berada pada posisi yang demikian?. Jika belum, mungkin kita patut mulai bertanya: bila selama ini setiap doa yang kita panjatkan seringkali tak berbuah tercapainya harapan dan cita, maka ada apa dengan doa-doa kita itu?