Terdapat doa-doa yang secara rutin selalu kita baca. Ada yang sekali dalam sehari, bahkan tiga atau lima kali setiap kita selesai menunaikan shalat fardhu.
Pada kesempatan pertama kita mengenal sebuah doa, lalu membacanya, maka seakan susunan kata dan kalimat dalam doa itu tampak biasa-biasa saja.
Waktu pun berlalu. Dan kita pun terus berdoa dengan doa yang itu-itu juga. Maka tiba-tiba doa itu hadir dengan makna lain di lubuk hati.
Dan begitulah hari terus berganti. Dan kita pun terus pula berdoa dengan doa yang persis sama, tanpa ada perubahan dalam redaksinya. Namun tambah hari, pemahaman kita akan makna doa itu menjadi kian beragam dan selalu terasa beda.
Ya Allah, masukkan rasa bahagia kepada ahli kubur. Pertama kali membaca baris doa ini, terlintas di hati bahwa kita sedang meminta kepada Tuhan agar Dia membahagiakan manusia yang sudah mati terkubur, agar para ahli kubur itu teredakan dari beratnya himpitan siksa. Namun setelah berulangkali kita berdoa meminta hal yang demikian, terbetik arti lain dari apa yang terdapat dalam doa itu, bukankah setiap diri kita yang hidup ini pada dasarnya adalah ‘ahli kubur’ yang tak kan mungkin luput dari kematian, bila saatnya tiba? Dengan begitu, bukankah sesungguhnya kita mendoakan manusia seluruhnya?
Begitulah bila pada awalnya yang terbayang mungkin hanya orang-orang terdekat kita yang sudah meninggal mendahului kita saja, terbatas mereka yang masih ada hubungan kerabat dan keluarga yang kita doakan, maka nilai kemurahan hati kita sesungguhnya sangat terbatas. Kemurahan hati kita menjadi kian luas bila kita mampu mendoakan seluruh manusia, karena dengan demikian, maka secara tidak langsung kita juga sudah mendoakan diri sendiri juga, terlepas dari jerat rasa egois yang selalu ingin didahulukan sebelum orang lain.
Ya Allah kayakanlah orang yang miskin. Orang-orang miskin, adalah mereka-mereka yang hidup dalam taraf di bawah orang kebanyakan. Begitu banyak populasi mereka di sekeliling kita. Dengan membaca baris doa ini kita memohon agar Tuhan membuat mereka menjadi kaya, sehingga mereka hidup dalam taraf berkecukupan, tidak lagi kekurangan. Dengan begitu mereka yang semula jarang makan, dapat secara teratur menyantap makanan dalam hidup keseharian. Namun bila kita coba cermati dengan lebih sadar, bukankah kita semua pada hakikatnya ‘faqir total’ di hadapan Sang Maha Kaya? Maka kepada siapakah baris doa ini pantas dialamatkan?Maka sekali lagi, kepada seluruh manusia. Bukan untuk segolongan atau segelintir orang dalam populasi miskin dalam arti sempit.
Maka demikian pula ketika kita mengumandangkan baris doa: Ya Allah kenyangkanlah orang yang lapar, maka yang ‘lapar’ sesungguhnya adalah seluruh manusia dengan hasratnya yang tak pernah kenyang akan dunia. Maka kita mohon kepada Tuhan agar rasa lapar itu menjadi hilang, berganti dengan rasa syukur dan qana’ah. Kita doakan orang-orang yang perutnya jarang terisi makanan, terlunta di jalanan, di kolong jembatan dan di tempat-tempat kumuh agar mereka bertemu sesuap nasi penghibur dan penuntas hasrat perut. Bila demikian, betapa sederhananya, bukan?. Padahal Rasulullah saw, berkenaan dengan doa ini bersabda bahwa setiap pembacanya akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah pada hari kiamat. Maka tentulah ‘lapar’ yang dimaksud doa di atas, lebih dari sekedar ‘lapar dalam arti kebanyakan’.
Di baris berikutnya, kita baca : Ya Allah, berilah pakaian orang yang telanjang. Apakah ini sekedar tertuju kepada orang-orang yang tak mampu untuk membeli baju sebagai penutup tubuh dalam arti fisik semata? Apakah doa ini ditujukan kepada para gelandangan dan anak-anak jalanan dengan baju robek dan compang-camping yang berkeliaran di sekitar kita itu? Ataukah ini tertuju kepada mereka yang dengan bejat membuka dan mempertontonkan aurat yang selayaknya ditutup rapat? Mungkinkah ini menyangkut para wanita penentang syariat yang mengumbar aurat, menari telanjang bangkitkan hasrat?.
Coba kita ingat :Bukankah sebaik-baik pakaian adalah taqwa? Bukankah di saat ini sudah sangat jarang sekali yang memakai pakaian dalam arti sesungguhnya ini? Maka ibarat manusia yang tak berbaju adalah telanjang, dan jauh dari kepantasan. Maka manusia yang tak bertaqwa pun sama saja bugil, dan memalukan di hadapan Tuhan. Tidakkah untuk manusia-manusia ini kita lebih patut memohon kepada Tuhan agar memberinya pakaian taqwa itu, agar mereka tidak telanjang dan bugil lagi?.
Ya Allah, lunasilah utang orang yang berutang. Betapa banyak orang yang punya hutang. Si miskin berhutang, konglomerat pun tak jauh beda, bahkan mungkin jauh lebih banyak lagi jumlah hutangnya. Tapi sesungguhnya setiap manusia adalah penghutang terbesar atas pengabaian kewajiban-kewajiban yang lalai ditunaikannya kepada Tuhan. Untuk para penghutang inilah kita lebih layak memohon kepada Tuhan agar melunasi tanggungan hutang-hutang itu dengan kelonggaran pengampunan.
Ya Allah, lepaskanlah kesulitan orang yang mendapat kesulitan. Yang kesulitan, bukan hanya orang yang mendapat kesulitan saja. Tapi seluruh manusia lah yang sesungguhnya ditimpa kesulitan yang sama bila mereka semua mempertuhankan sesuatu yang lain selain Allah dan tidak berserah diri hanya kepada Tuhan. Karena Laa hawla wa laa quwwata illa billah…
Ya Allah, kembalikanlah orang yang terasing. Orang yang terasing bukan cuma mereka yang berada di pengasingan dalam arti sederhana. Karena seluruh manusia pada hakikatnya sudah terasing di dunia yang penuh tipu-daya ini, apabila lupa pada kampung halaman ‘asli’-nya yang sebenarnya bernama ‘akhirat’. Untuk mereka para ‘pelupa’ inilah doa ini pantas kita panjatkan. [bersambung]



